Halaman

Senin, 01 Juni 2015

Rejeki Nomplok Pembuat Nopol

SEPERTI telah saya tulis pada blog Kedai Kang Edi, bahwa nopol dan
STNK si Supra saya ini baru jadi enam bulan lagi. Iya, enam bulan.
Dengan alasan, materialnya sedang kosong.

Enam bulan tentu termasuk lama dibanding, nopol + STNK milik teman,
yang tiga bulan sudah jadi. Tetapi waktu enam bulan itu ternyata lebih
cepat ketimbang, "Nopol punya motorku malah setahun baru jadi,"
komentar teman blogger yang juga baru mengurus pajak lima tahunan
untuk motornya. Lazimnya membayar pajak lima tahunan, adalah juga
sebagai saat ganti STNK dan plat nomor.

Waktu memang relatif. Dan atas sebegitu lamanya untuk sebuah STNK dan
plat nomor, relatif memberikan rejeki nomplok bagi pemilik usaha
pembuatan plat nomor di pinggir-pinggir jalan.

Perhatikanlah, plat nomor resmi keluaran Samsat acap kali bentuk angka
dan hurufnya 'mblobor' alias tak nyeni sama sekali. Lebih-lebih ukuran
platnya sekarang ini tambah gede. Besar tapi rapi tentulah masih enak
dipandang, lha kalau besar tetapi 'mblobor'?

Dengan alasan kurang rapi itulah, sepertinya, tak sedikit yang
memermak plat asli berlogo Satlantas Polri itu ke tukang plat nomor
kaki lima. Mereka pikir, kendaraan yang merupakan keluaran terbaru kok
plat nopolnya belepotan, kurang serasi kan? Nah, apalagi sekarang:
plat nopol jadinya lama, tentu memesan ke kaki lima adalah jalan
keluarnya.

"Yang ini 65 ribu," kata pemilik kios plat nopol saat saya tanya.

"Wih, kok mahal?" celetuk saya. Dan kemudian saya mendapat penjelasan
harga segitu karena plat dobel: sudah ada mur-baut di bagian belakang,
sehingga tinggal pasang dan kepala baut tidak tampak pada 'wajah' plat
nomor. Tetapi karena si Supra ini sudah ada yang semacam itu, saya
memilih yang agak murah saja. Toh nanti, enam bulan lagi, kalau plat
nopol yang resmi sudah jadi, plat imitasi ini saya lepas lagi.

Lagian selisihnya lumayan,"Yang tanpa dobel plat ini harganya
tigapuluh ribu," katanya.

Ya sudah. Saya pilih itu. Dan tidak sampai berbilang bulan,"Besok sore
silakan diambil," sambil menyerahkan kwitansi, pemilik kios itu
berkata.

Sambil pulang saya iseng menghitung; yang asli dari Samsat biayanya
80ribu dengan rincian 50ribu untuk selembar STNK dan 30ribu untuk plat
nopol. Nah di kios kaki lima ini, harga plat nopor sama; 30ribu. Dan
jadinya cuma memakan waktu 24 jam. Cobalah bantu saya mengkalkulasi,
mahal mana ya? *****

Minggu, 31 Mei 2015

Ngeblog Pakai Nokia C3

BAGI orang hobi memancing, tidak memancing seminggu saja sudah
tersiksa rasanya. Begitupun yang punya hobi bersepeda, tidak mengayuh
pedal empat hari saja, otot-otot tersa tidak nyaman. Bagaimana bagi
yang suka ngeblog tetapt karena sesuatu dan lain hal menjadikan tidak
memungkinkan untuk melakukannya?

"Sakitnya tuh disini, di jari jempol," tulis Dahlan Iskan kala setelah
tidak menjabat menteri dan nawaitu untuk puasa menulis.

Begitulah, dengan gadget terbaru, jari jempol menemukan fungsinya
secara maksimal setelah sekian lama hanya sebagai alat cap saja.
Menulis apapun lewat smartphone, jempol memegang peran dominan. Dan
sering saya temui orang dengan kecepatan jempol menari dengan
lincahnya kesana-kemari menyentuh layar gadget menulis kalimat.

Karena sesuatu dan lain hal juga, beberapa waktu kesukaan saya ngeblog
terbilang jeblog. Padahal, sekarang ini, untuk posting artikel di blog
pribai tak terlalu sulit. Asal ada kemauan. Toh, menulis di blog tak
harus pakai PC atau laptop. Tetapi ponsel saya cuma Nokia C3, gimana
dong?

Ah, bukan halangan ternyata.
Setelah tanya mbah google, ada juga solusinya: kirim artikel via email.

Walau saat melakukan setting pakai PC, langkah-langkahnya ternyata
gampang. Ini buktinya, saya yang gaptek saja ternyata bisa. Dan, kirim
artikelvia email bukan hanya untuk akun blogger, untuk wordpress juga
tersedia.

Dengan senjata kaliber Nokia C3, sekarang tidak ada alasan untuk tidak
ngeblog. Namun, yang saya kurang mengerti, bagaimana ya mnyertakan
foto sebagai ilustrasi tulisan kalau hanya pakai Nokia C3? *****

Rabu, 27 Mei 2015

Bila Pijakan Kaki 'Sengkleh'

SAYA perhatikan, bukan Supra125 milik saya saja yang pijakan kaki belakang (sisi kiri utamanya) yang sudah nggambleh dan kurang berfungsi optimal. Dan agar bisa berdiri, acapkali pemilik Supra mengikatnya dengan tali karet agar suaranya tidak mengganggu kuping.

Nah, selain dengan mengganti baru, bagaimana ya caranya agar pijakan itu bisa optimal secara fungsi? Barangkali teman pemilik Supra125 punya tips untuk mengatasinya. *****

Minggu, 22 Februari 2015

Ganti Oli Vario125

Dengan mencatat odometer saat ganti oli,
bisa lebih gampang untuk menghitung kilometer
berikutnya saat mesti ganti oli lagi.
UNTUK si Supra125, sudah sering sekali saya mengganti oli sendiri. Kecuali sedang saya bawa ke AHASS, ia selalu saya ganti sendiri. Peralatannya cuma kunci ring nomor 17 dan tang saja. Kunci untuk membuka baut penutup, tang untuk membuka tutup bagian atas. Itu saja. Dengan letak baut penutup yang di bagian bawah sisi tengah, nyaris sama sekali tidak ada kesulitan dalam penggantian oli. Asal mau, asal hati-hati saja. Prinsipnya dalam memutar kunci: ke kiri untuk membuka, ke kanan untuk menutup. Itu.

Nah, karena jadwal ke AHASS (untuk service gratis) masih dua bulan lagi, sementara oli sudah waktunya diganti (nyaris 2000 km pemakaian), untuk si Rio saya juga akan melakukan penggantian oli sendiri. Tetapi?
Letak baut untuk tap oli pada Vario agak
tersembunyi tempatnya.
Oh, saya perhatikan, letak baut penutup untuk membuang oli kok kecil. Ukuran 12mm. Dan lagi, secara letak agak sulit dijangkau (karena ujung kunci akan menyentuh leher kenalpot ketika membuka/menutup).

Saya sudah kadung beli oli dan coolant. Dan saya merasa, masa tidak bisa sih?

Karena masih pertama, tentu saya lebih hati-hati dari biasanya ketika mengganti oli si Supra. Saat menambah coolant si Rio ini sih tentu tidak ada kesulitan. Yang diperhatikan cuma jangan sampai ketika sudah ditambah ciran pendingin itu melebihi batas upper.

Dengan modal kunci ring 12, akhirnya terbuka juga tutup untuk nge-tap. Untuk mengembalikannya tentu hanya butuh langkah kebalikannya. Satu lagi, bibir untuk menyuapi oli baru milik Vario125 ini saya rasa agak terlalu ke dalam. Sehingga, sekalipun sudah memakai corong, masih saja terlihat agak menjorok ke dalam.

Kalau kurang telaten dan ingin lebih save, tentu anjurannya jelas; bawa saja ke AHASS. Tetapi, tentu tidak ada salahnya mencoba sendiri. Toh cuma sekadar ganti oli. Eh, satu lagi; supaya gampang, catat odometer agar saat penggantian oli berikutnya bisa dengan mudah diingat.*****



Jumat, 20 Februari 2015

Bila Vario Mogok

SEJAK September kemarin si Nenen saya ini punya teman baru di rumah. Namanya Vario Techno125 (bukan yang type ISS), warna putih. Alasan kenapa memilih si Rio (demikian kemudian si kecil saya memanggilnya) adalah sederhana sekali. Kami (saya termasuk) yang sama sekali buta akan mesin motor  memakai alasan yang simpel sekali saat membeli. Yakni: karena sudah punya yang manual, untuk yang baru pilih yang matic. Itu saja. Dan sama sekali tidak membuat perbandingan kelebihan dan kekurangan si Rio dibanding si Nenen.

Sekarang, lima bulan ini, dibanding Si Nenen, saya lebih sering menunggang si Rio. Nyaman sih. Kaki tidak perlu repot injak rem atau persneling. Pada motor matic, semua fungsi ada di tangan. Tetapi, di musim hujan begini, agak minder juga membawa Rio kala menemui jalanan yang tergenang. Karena, menurut cerita seorang teman yang rumahnya di Gresik, pas kejebak banjir di jalan Margomulyo sepulang kerja, membawa petaka pada Vario125-nya. 'Perut' si Varionya tidak sekadar masuk angin, tetapi masuk air. Menjadikannya harus gonta-ganti oli karena diganti sekali, setelah mesin dihidupkan warna oli masih berubah menjadi seperti susu.

Sekali lagi, saya yang awam sangat tentang mesin menjadi was-was kalau berkendara membawa si Rio ini saat hujan. Tetapi, "Kalau mogok kemasukan air," nasihat seorang teman lain yang juga penunggang Vario125, "gak usah panik. Tuntun motor ke tempat agak tinggi. Buka penutup fiter, angkat roda depan, mengucur deh air dari filter. Tahan sampai filter kering."

Mendengar nasihat itu sih, jadi agak mendingan. Paling tidak tahu jurus saat si Rio masuk air. Tetapi, tetap saja; doanya adalah semoga si Rio tidak pernah  mengalami hal-hal yang tidak diinginkan. Namun kalau terpaksa, ya apa boleh buat. Untuk langkah darurat, petuah teman itu bisa dijadikan pertolongan pertama pada kemogokan. Hehe....*****

Senin, 21 Juli 2014

Usia Pakai Ban dan Rantai

BERAPA jarak waktu ideal untuk mengganti gear-rantai secara total untuk motor Supra X-125?

Itu pertanyaan yang ada di kepala saya melihat kenyataan rantai si Nenen saya ini sudah agak berisik bila dkendarai. Kalau ngebut sih tidak kedengaran, tetapi saat dikendarai secara pelan, kerasa betul bunyi itu. Ohya, si Nenen ini saya beli tahun 2010 pada pertengahan Mei. Secara gampang ia sudah saya kendarai selama 4 tahun, dengan jarak tempuh rata-rata 50 km/hari. Nah, memang sudah waktunyakah di usa pemakaian segitu gir-rantainya diganti?

Niat untuk mengganti itu sebenarnya sudah ada sejak tiga bulan yang lalu. Tetapi ketika hal itu saya utarakan kepada seorang teman yang agak mengerti motor, dan saya disarankan untuk memotong saja rantainya dulu. Toh gerigi gir-nya belum lancip, yang itu tandanya, menurut si teman, ia masih layak untuk dipakai. Tetapi mengingat setelan rantai sudah mentok, dipotong adalah satu-satunya cara yang masuk akal (baca: murah, bahkan tanpa biaya).

Tidak hanya menyarankan, si teman itu jugalah yang memotongkan ranti si Nenen. Benar memang, setelah 'diamputasi', si rantai kembai 'normal', bisa disetel, sekaligus tidak lagi berisik. Namun, tiga bulan kemudian, si rantai kembali bersuara. Bisa sih disetel dengan dikencangkan lagi, atau nanti dipotong lagi. Tetapi, karena rencananya lebaran nanti si Nenen saya pakai perjalanan mudik jarak jauh, sepertinya agak riskan kalau si rantai itu kembali saya 'amputasi'. Ya, harus ganti baru.

Kebetulan, waktu tiga bulan yang lalu itu sebenarnya saya sudah membeli satu set rantai untuk Supra X-125 seharga 130 ribu, namun karena 'kebaikan' teman saya yang telah memotongkan rantai, tertunda akhirnya si Nenen berrantai baru. Nah, saat ini, disaat banyak orang menyiapakan baju baru, tidak ada salahnya juga, saya pikir, saya pakaikan juga rantai baru buat si Nenen.

Di sebuah bengkel, sambil sekalian service dan ganti oli, Jumat kemarin si Nenen resmi berganti rantai. Habis tune-up, oli baru plus rantai baru, motor ini makin mantap dikendarai. Intinya, menurut saya, ia sudah siap dibawa mudik nanti.

Tetapi, bukan berarti segalanya siap. Kemarin sore, sesaat setelah saya pompa ban belakang yang agak kurang angin, saya temui ada keretakan pada ban belakang. Ya, retak, bukan robek karena benda asing. Masalah apa pula ini? Padahal 'batik'-nya si ban merek Federal itu masih bagus, karena masih belum enam bulan saya ganti. Kalau ban dalamnya malah baru tiga minggu yang lalu diganti.

Bahaya itu,” kata seorang teman. “harus diganti ban baru, supaya tidak pecah saat dikendarai di jalanan yang panas. Saya juga pernah mengalami itu. Iya, ban si Revo saya retak memanjang pada bagian tengah 'batik'-nya. Sama seperti punya Sampeyan, padahal usia pakai masih belum lama. Saran saya, ya itu tadi, lebih baik ganti ban baru, daripada celaka di jalan.”

Tentu saja nasihat itu masuk akal, sekaligus menakutkan. Tetapi, kenapa ban yang secara usia pakai masih tak terlalu lama bisa mengalami keretakan tersebut?

“Bisa jadi itu karena ban itu lama digudang. Baru terjual di masa injury time sebelum batas expired. Ya, seperti sepatu baru tetapi hanya disimpan, pasti bagian bawah/karetnya mrotoli walau tak pernah dipakai,” begitu logika teman saya.


Benarkah demikian? *****