Halaman

Sabtu, 01 Maret 2014

Satu Supra Sejuta Saudara?


SEBELUM punya si Nenen ini, tunggangan saya kemana-mana adalah Astrea Grand Impressa keluaran '97. Kalau diingat-ingat lagi sekarang, saya agak menyesal juga telah menjualnya. Lebih-lebih ketika melihat seorang teman masih merawat Honda Prima-nya walau sudah punya si Jupiter dari Yamaha.

Aku bisa punya Jupiter ini juga karena si Prima,” ujarnya. “Jadi, sebagai rasa terima kasih, aku tidak akan menjual kendaraan yang kumiliki pertama...”

Tentu, kenapa saya menjual si Grand ada pertimbangannya. Selain ia bikin rumah yang sempit jadi sesak, juga (ini yang utama) karena saya waktu itu lagi butuh duit.

Tentang kenangan bersama si Grand, jangan ditanya. Ada banyak sekali. Dari yang mogok karena kebanjiran, gara-gara cop busi yang rusak, atau ban kempis di tengah bulak (persawahan yang jauh dari perkampungan). Sekarang, sekali lagi, kalau mengenang itu, duh sayang sekali....

Sebagai kendaraan tua, rewel ini-itu bahkan pernah sampai turun mesin, adalah hal lumrah. Dan di situ itulah seninya. Dibanding, misalnya, si Nenen ini yang karena terbilang baru, jarang sekali ada keluhan.

Tetapi, tentang rasa senasib antar sesama pengguna kendaraan, tiada yang mengalahkan satu jiwanya pemilik Vespa. Seorang teman yang memiliki 'tunggangan kebangsaan' berjenis Vespa kepada saya sempat berucap, “Walau tidak kenal, ketika Vespa saya ini mogok di suatu tempat, ketika ada pengendara Vespa lain, pasti akan berhenti, menolong. “

Itu, kalau benar ceritanya, sungguh tak saya alami kala dulu si Grand saya mogok. Walau ada beberapa pengendara yang menunggang Grand, tak satu pun dari mereka yang berhenti untuk, paling tidak, sekadar bertanya 'kenapa', misalnya.

Cerita teman itu makin saya percaya ketika di sebuah program dokumenter yang ditayang MetroTV beberapa hari yang lalu mengangkat kisah Satu Vespa Sejuta Saudara. Digambarkan di situ betapa antar sesama Scooterist (begitu pengendara Vespa menyebut dirinya) erat sekali hubungannya. Tak kenal tapi bila mendapati seseorang mengendarai Vespa, di mana pun tempatnya, itu telah dianggap sebagai saudara.

Entahlah, atas cermin dari para Scooterist itu, apakah sesama pengguna SupraX mempunyai itikat untuk membuat hal yang sama. Seraya (walau latah meniru slogan milik mereka) menebar semangat; Satu Supra Sejuta Saudara. *****