Halaman

Jumat, 20 Februari 2015

Bila Vario Mogok

SEJAK September kemarin si Nenen saya ini punya teman baru di rumah. Namanya Vario Techno125 (bukan yang type ISS), warna putih. Alasan kenapa memilih si Rio (demikian kemudian si kecil saya memanggilnya) adalah sederhana sekali. Kami (saya termasuk) yang sama sekali buta akan mesin motor  memakai alasan yang simpel sekali saat membeli. Yakni: karena sudah punya yang manual, untuk yang baru pilih yang matic. Itu saja. Dan sama sekali tidak membuat perbandingan kelebihan dan kekurangan si Rio dibanding si Nenen.

Sekarang, lima bulan ini, dibanding Si Nenen, saya lebih sering menunggang si Rio. Nyaman sih. Kaki tidak perlu repot injak rem atau persneling. Pada motor matic, semua fungsi ada di tangan. Tetapi, di musim hujan begini, agak minder juga membawa Rio kala menemui jalanan yang tergenang. Karena, menurut cerita seorang teman yang rumahnya di Gresik, pas kejebak banjir di jalan Margomulyo sepulang kerja, membawa petaka pada Vario125-nya. 'Perut' si Varionya tidak sekadar masuk angin, tetapi masuk air. Menjadikannya harus gonta-ganti oli karena diganti sekali, setelah mesin dihidupkan warna oli masih berubah menjadi seperti susu.

Sekali lagi, saya yang awam sangat tentang mesin menjadi was-was kalau berkendara membawa si Rio ini saat hujan. Tetapi, "Kalau mogok kemasukan air," nasihat seorang teman lain yang juga penunggang Vario125, "gak usah panik. Tuntun motor ke tempat agak tinggi. Buka penutup fiter, angkat roda depan, mengucur deh air dari filter. Tahan sampai filter kering."

Mendengar nasihat itu sih, jadi agak mendingan. Paling tidak tahu jurus saat si Rio masuk air. Tetapi, tetap saja; doanya adalah semoga si Rio tidak pernah  mengalami hal-hal yang tidak diinginkan. Namun kalau terpaksa, ya apa boleh buat. Untuk langkah darurat, petuah teman itu bisa dijadikan pertolongan pertama pada kemogokan. Hehe....*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar