Halaman

Minggu, 22 Februari 2015

Ganti Oli Vario125

Dengan mencatat odometer saat ganti oli,
bisa lebih gampang untuk menghitung kilometer
berikutnya saat mesti ganti oli lagi.
UNTUK si Supra125, sudah sering sekali saya mengganti oli sendiri. Kecuali sedang saya bawa ke AHASS, ia selalu saya ganti sendiri. Peralatannya cuma kunci ring nomor 17 dan tang saja. Kunci untuk membuka baut penutup, tang untuk membuka tutup bagian atas. Itu saja. Dengan letak baut penutup yang di bagian bawah sisi tengah, nyaris sama sekali tidak ada kesulitan dalam penggantian oli. Asal mau, asal hati-hati saja. Prinsipnya dalam memutar kunci: ke kiri untuk membuka, ke kanan untuk menutup. Itu.

Nah, karena jadwal ke AHASS (untuk service gratis) masih dua bulan lagi, sementara oli sudah waktunya diganti (nyaris 2000 km pemakaian), untuk si Rio saya juga akan melakukan penggantian oli sendiri. Tetapi?
Letak baut untuk tap oli pada Vario agak
tersembunyi tempatnya.
Oh, saya perhatikan, letak baut penutup untuk membuang oli kok kecil. Ukuran 12mm. Dan lagi, secara letak agak sulit dijangkau (karena ujung kunci akan menyentuh leher kenalpot ketika membuka/menutup).

Saya sudah kadung beli oli dan coolant. Dan saya merasa, masa tidak bisa sih?

Karena masih pertama, tentu saya lebih hati-hati dari biasanya ketika mengganti oli si Supra. Saat menambah coolant si Rio ini sih tentu tidak ada kesulitan. Yang diperhatikan cuma jangan sampai ketika sudah ditambah ciran pendingin itu melebihi batas upper.

Dengan modal kunci ring 12, akhirnya terbuka juga tutup untuk nge-tap. Untuk mengembalikannya tentu hanya butuh langkah kebalikannya. Satu lagi, bibir untuk menyuapi oli baru milik Vario125 ini saya rasa agak terlalu ke dalam. Sehingga, sekalipun sudah memakai corong, masih saja terlihat agak menjorok ke dalam.

Kalau kurang telaten dan ingin lebih save, tentu anjurannya jelas; bawa saja ke AHASS. Tetapi, tentu tidak ada salahnya mencoba sendiri. Toh cuma sekadar ganti oli. Eh, satu lagi; supaya gampang, catat odometer agar saat penggantian oli berikutnya bisa dengan mudah diingat.*****



Jumat, 20 Februari 2015

Bila Vario Mogok

SEJAK September kemarin si Nenen saya ini punya teman baru di rumah. Namanya Vario Techno125 (bukan yang type ISS), warna putih. Alasan kenapa memilih si Rio (demikian kemudian si kecil saya memanggilnya) adalah sederhana sekali. Kami (saya termasuk) yang sama sekali buta akan mesin motor  memakai alasan yang simpel sekali saat membeli. Yakni: karena sudah punya yang manual, untuk yang baru pilih yang matic. Itu saja. Dan sama sekali tidak membuat perbandingan kelebihan dan kekurangan si Rio dibanding si Nenen.

Sekarang, lima bulan ini, dibanding Si Nenen, saya lebih sering menunggang si Rio. Nyaman sih. Kaki tidak perlu repot injak rem atau persneling. Pada motor matic, semua fungsi ada di tangan. Tetapi, di musim hujan begini, agak minder juga membawa Rio kala menemui jalanan yang tergenang. Karena, menurut cerita seorang teman yang rumahnya di Gresik, pas kejebak banjir di jalan Margomulyo sepulang kerja, membawa petaka pada Vario125-nya. 'Perut' si Varionya tidak sekadar masuk angin, tetapi masuk air. Menjadikannya harus gonta-ganti oli karena diganti sekali, setelah mesin dihidupkan warna oli masih berubah menjadi seperti susu.

Sekali lagi, saya yang awam sangat tentang mesin menjadi was-was kalau berkendara membawa si Rio ini saat hujan. Tetapi, "Kalau mogok kemasukan air," nasihat seorang teman lain yang juga penunggang Vario125, "gak usah panik. Tuntun motor ke tempat agak tinggi. Buka penutup fiter, angkat roda depan, mengucur deh air dari filter. Tahan sampai filter kering."

Mendengar nasihat itu sih, jadi agak mendingan. Paling tidak tahu jurus saat si Rio masuk air. Tetapi, tetap saja; doanya adalah semoga si Rio tidak pernah  mengalami hal-hal yang tidak diinginkan. Namun kalau terpaksa, ya apa boleh buat. Untuk langkah darurat, petuah teman itu bisa dijadikan pertolongan pertama pada kemogokan. Hehe....*****