Halaman

Rabu, 27 Mei 2015

Bila Pijakan Kaki 'Sengkleh'

SAYA perhatikan, bukan Supra125 milik saya saja yang pijakan kaki belakang (sisi kiri utamanya) yang sudah nggambleh dan kurang berfungsi optimal. Dan agar bisa berdiri, acapkali pemilik Supra mengikatnya dengan tali karet agar suaranya tidak mengganggu kuping.

Nah, selain dengan mengganti baru, bagaimana ya caranya agar pijakan itu bisa optimal secara fungsi? Barangkali teman pemilik Supra125 punya tips untuk mengatasinya. *****

Minggu, 22 Februari 2015

Ganti Oli Vario125

Dengan mencatat odometer saat ganti oli,
bisa lebih gampang untuk menghitung kilometer
berikutnya saat mesti ganti oli lagi.
UNTUK si Supra125, sudah sering sekali saya mengganti oli sendiri. Kecuali sedang saya bawa ke AHASS, ia selalu saya ganti sendiri. Peralatannya cuma kunci ring nomor 17 dan tang saja. Kunci untuk membuka baut penutup, tang untuk membuka tutup bagian atas. Itu saja. Dengan letak baut penutup yang di bagian bawah sisi tengah, nyaris sama sekali tidak ada kesulitan dalam penggantian oli. Asal mau, asal hati-hati saja. Prinsipnya dalam memutar kunci: ke kiri untuk membuka, ke kanan untuk menutup. Itu.

Nah, karena jadwal ke AHASS (untuk service gratis) masih dua bulan lagi, sementara oli sudah waktunya diganti (nyaris 2000 km pemakaian), untuk si Rio saya juga akan melakukan penggantian oli sendiri. Tetapi?
Letak baut untuk tap oli pada Vario agak
tersembunyi tempatnya.
Oh, saya perhatikan, letak baut penutup untuk membuang oli kok kecil. Ukuran 12mm. Dan lagi, secara letak agak sulit dijangkau (karena ujung kunci akan menyentuh leher kenalpot ketika membuka/menutup).

Saya sudah kadung beli oli dan coolant. Dan saya merasa, masa tidak bisa sih?

Karena masih pertama, tentu saya lebih hati-hati dari biasanya ketika mengganti oli si Supra. Saat menambah coolant si Rio ini sih tentu tidak ada kesulitan. Yang diperhatikan cuma jangan sampai ketika sudah ditambah ciran pendingin itu melebihi batas upper.

Dengan modal kunci ring 12, akhirnya terbuka juga tutup untuk nge-tap. Untuk mengembalikannya tentu hanya butuh langkah kebalikannya. Satu lagi, bibir untuk menyuapi oli baru milik Vario125 ini saya rasa agak terlalu ke dalam. Sehingga, sekalipun sudah memakai corong, masih saja terlihat agak menjorok ke dalam.

Kalau kurang telaten dan ingin lebih save, tentu anjurannya jelas; bawa saja ke AHASS. Tetapi, tentu tidak ada salahnya mencoba sendiri. Toh cuma sekadar ganti oli. Eh, satu lagi; supaya gampang, catat odometer agar saat penggantian oli berikutnya bisa dengan mudah diingat.*****



Jumat, 20 Februari 2015

Bila Vario Mogok

SEJAK September kemarin si Nenen saya ini punya teman baru di rumah. Namanya Vario Techno125 (bukan yang type ISS), warna putih. Alasan kenapa memilih si Rio (demikian kemudian si kecil saya memanggilnya) adalah sederhana sekali. Kami (saya termasuk) yang sama sekali buta akan mesin motor  memakai alasan yang simpel sekali saat membeli. Yakni: karena sudah punya yang manual, untuk yang baru pilih yang matic. Itu saja. Dan sama sekali tidak membuat perbandingan kelebihan dan kekurangan si Rio dibanding si Nenen.

Sekarang, lima bulan ini, dibanding Si Nenen, saya lebih sering menunggang si Rio. Nyaman sih. Kaki tidak perlu repot injak rem atau persneling. Pada motor matic, semua fungsi ada di tangan. Tetapi, di musim hujan begini, agak minder juga membawa Rio kala menemui jalanan yang tergenang. Karena, menurut cerita seorang teman yang rumahnya di Gresik, pas kejebak banjir di jalan Margomulyo sepulang kerja, membawa petaka pada Vario125-nya. 'Perut' si Varionya tidak sekadar masuk angin, tetapi masuk air. Menjadikannya harus gonta-ganti oli karena diganti sekali, setelah mesin dihidupkan warna oli masih berubah menjadi seperti susu.

Sekali lagi, saya yang awam sangat tentang mesin menjadi was-was kalau berkendara membawa si Rio ini saat hujan. Tetapi, "Kalau mogok kemasukan air," nasihat seorang teman lain yang juga penunggang Vario125, "gak usah panik. Tuntun motor ke tempat agak tinggi. Buka penutup fiter, angkat roda depan, mengucur deh air dari filter. Tahan sampai filter kering."

Mendengar nasihat itu sih, jadi agak mendingan. Paling tidak tahu jurus saat si Rio masuk air. Tetapi, tetap saja; doanya adalah semoga si Rio tidak pernah  mengalami hal-hal yang tidak diinginkan. Namun kalau terpaksa, ya apa boleh buat. Untuk langkah darurat, petuah teman itu bisa dijadikan pertolongan pertama pada kemogokan. Hehe....*****

Senin, 21 Juli 2014

Usia Pakai Ban dan Rantai

BERAPA jarak waktu ideal untuk mengganti gear-rantai secara total untuk motor Supra X-125?

Itu pertanyaan yang ada di kepala saya melihat kenyataan rantai si Nenen saya ini sudah agak berisik bila dkendarai. Kalau ngebut sih tidak kedengaran, tetapi saat dikendarai secara pelan, kerasa betul bunyi itu. Ohya, si Nenen ini saya beli tahun 2010 pada pertengahan Mei. Secara gampang ia sudah saya kendarai selama 4 tahun, dengan jarak tempuh rata-rata 50 km/hari. Nah, memang sudah waktunyakah di usa pemakaian segitu gir-rantainya diganti?

Niat untuk mengganti itu sebenarnya sudah ada sejak tiga bulan yang lalu. Tetapi ketika hal itu saya utarakan kepada seorang teman yang agak mengerti motor, dan saya disarankan untuk memotong saja rantainya dulu. Toh gerigi gir-nya belum lancip, yang itu tandanya, menurut si teman, ia masih layak untuk dipakai. Tetapi mengingat setelan rantai sudah mentok, dipotong adalah satu-satunya cara yang masuk akal (baca: murah, bahkan tanpa biaya).

Tidak hanya menyarankan, si teman itu jugalah yang memotongkan ranti si Nenen. Benar memang, setelah 'diamputasi', si rantai kembai 'normal', bisa disetel, sekaligus tidak lagi berisik. Namun, tiga bulan kemudian, si rantai kembali bersuara. Bisa sih disetel dengan dikencangkan lagi, atau nanti dipotong lagi. Tetapi, karena rencananya lebaran nanti si Nenen saya pakai perjalanan mudik jarak jauh, sepertinya agak riskan kalau si rantai itu kembali saya 'amputasi'. Ya, harus ganti baru.

Kebetulan, waktu tiga bulan yang lalu itu sebenarnya saya sudah membeli satu set rantai untuk Supra X-125 seharga 130 ribu, namun karena 'kebaikan' teman saya yang telah memotongkan rantai, tertunda akhirnya si Nenen berrantai baru. Nah, saat ini, disaat banyak orang menyiapakan baju baru, tidak ada salahnya juga, saya pikir, saya pakaikan juga rantai baru buat si Nenen.

Di sebuah bengkel, sambil sekalian service dan ganti oli, Jumat kemarin si Nenen resmi berganti rantai. Habis tune-up, oli baru plus rantai baru, motor ini makin mantap dikendarai. Intinya, menurut saya, ia sudah siap dibawa mudik nanti.

Tetapi, bukan berarti segalanya siap. Kemarin sore, sesaat setelah saya pompa ban belakang yang agak kurang angin, saya temui ada keretakan pada ban belakang. Ya, retak, bukan robek karena benda asing. Masalah apa pula ini? Padahal 'batik'-nya si ban merek Federal itu masih bagus, karena masih belum enam bulan saya ganti. Kalau ban dalamnya malah baru tiga minggu yang lalu diganti.

Bahaya itu,” kata seorang teman. “harus diganti ban baru, supaya tidak pecah saat dikendarai di jalanan yang panas. Saya juga pernah mengalami itu. Iya, ban si Revo saya retak memanjang pada bagian tengah 'batik'-nya. Sama seperti punya Sampeyan, padahal usia pakai masih belum lama. Saran saya, ya itu tadi, lebih baik ganti ban baru, daripada celaka di jalan.”

Tentu saja nasihat itu masuk akal, sekaligus menakutkan. Tetapi, kenapa ban yang secara usia pakai masih tak terlalu lama bisa mengalami keretakan tersebut?

“Bisa jadi itu karena ban itu lama digudang. Baru terjual di masa injury time sebelum batas expired. Ya, seperti sepatu baru tetapi hanya disimpan, pasti bagian bawah/karetnya mrotoli walau tak pernah dipakai,” begitu logika teman saya.


Benarkah demikian? *****

Sabtu, 01 Maret 2014

Satu Supra Sejuta Saudara?


SEBELUM punya si Nenen ini, tunggangan saya kemana-mana adalah Astrea Grand Impressa keluaran '97. Kalau diingat-ingat lagi sekarang, saya agak menyesal juga telah menjualnya. Lebih-lebih ketika melihat seorang teman masih merawat Honda Prima-nya walau sudah punya si Jupiter dari Yamaha.

Aku bisa punya Jupiter ini juga karena si Prima,” ujarnya. “Jadi, sebagai rasa terima kasih, aku tidak akan menjual kendaraan yang kumiliki pertama...”

Tentu, kenapa saya menjual si Grand ada pertimbangannya. Selain ia bikin rumah yang sempit jadi sesak, juga (ini yang utama) karena saya waktu itu lagi butuh duit.

Tentang kenangan bersama si Grand, jangan ditanya. Ada banyak sekali. Dari yang mogok karena kebanjiran, gara-gara cop busi yang rusak, atau ban kempis di tengah bulak (persawahan yang jauh dari perkampungan). Sekarang, sekali lagi, kalau mengenang itu, duh sayang sekali....

Sebagai kendaraan tua, rewel ini-itu bahkan pernah sampai turun mesin, adalah hal lumrah. Dan di situ itulah seninya. Dibanding, misalnya, si Nenen ini yang karena terbilang baru, jarang sekali ada keluhan.

Tetapi, tentang rasa senasib antar sesama pengguna kendaraan, tiada yang mengalahkan satu jiwanya pemilik Vespa. Seorang teman yang memiliki 'tunggangan kebangsaan' berjenis Vespa kepada saya sempat berucap, “Walau tidak kenal, ketika Vespa saya ini mogok di suatu tempat, ketika ada pengendara Vespa lain, pasti akan berhenti, menolong. “

Itu, kalau benar ceritanya, sungguh tak saya alami kala dulu si Grand saya mogok. Walau ada beberapa pengendara yang menunggang Grand, tak satu pun dari mereka yang berhenti untuk, paling tidak, sekadar bertanya 'kenapa', misalnya.

Cerita teman itu makin saya percaya ketika di sebuah program dokumenter yang ditayang MetroTV beberapa hari yang lalu mengangkat kisah Satu Vespa Sejuta Saudara. Digambarkan di situ betapa antar sesama Scooterist (begitu pengendara Vespa menyebut dirinya) erat sekali hubungannya. Tak kenal tapi bila mendapati seseorang mengendarai Vespa, di mana pun tempatnya, itu telah dianggap sebagai saudara.

Entahlah, atas cermin dari para Scooterist itu, apakah sesama pengguna SupraX mempunyai itikat untuk membuat hal yang sama. Seraya (walau latah meniru slogan milik mereka) menebar semangat; Satu Supra Sejuta Saudara. *****

Sabtu, 14 Desember 2013

Kemacetan Jalanan



GERIMIS turun tinggal satu-dua ketika saya memanaskan mesin di parkiran, sore tadi. Pada display odometer digital si Nenen menunjuk angka cantik; 47272.7 km, sementara layar ponsel mEmampang jam 16.09 di sisi kanan bawah. Pada saat itu saya melepas sepatu dan berganti memakai sandal. Dalam bermotor, tentu saja dengan mengenakan sepatu kaki akan lebih aman.  Tetapi di saat gerimis begini, ketika jalanan banyak genangan sisa hujan, sepatu dikenakan bagi saya terasa eman-eman

Tiga menit berselang, saya sudah berada di pos BRC, menjulurkan jari kelingking untuk dipindai pada alat finger print. Semenit berikutnya, saya sudah berada di pos 1 untuk berhenti sejenak; kali ini body check. Aman, clear. Pak satpam mempersilakan saya keluar, pulang. Namun nahas bagi Ateng (sejatinya namanya Sunaryo, tetapi lebih dikenal sebagai Ateng), Astrea Prima keluaran tahun ’91 dengan nopol cakep L 2225 K-nya mogok. Padahal siang tadi saya lihat telah diutak-atik karboratornya. “Kabelnya nempel bodi,” katanya ketika saya tanya.

Saya hanya bertanya, karena untuk urusan utak-atik motor ia memang jagonya. Saya? Oh, jangan tanya, unutuk urusan permesinan, sama sekali buta!

Demi melihat langit masih hitam sementara gerimis belum  juga bosan turun, pak Sulton (satpam yang sedang kebagian berjaga di Pos 1) menyarankan saya memakai jas hujan. Baiklah, saya pikir itu juga tidak salah; hitung-hitung dalam rangka bersiap-siap, siapa tahu di depan hujan deras lagi. Atau walau tidak begitu, bagi pengendara motor, lebih baik hujan sekalian, daripada gerimis atau jalanan basah habis hujan. Bukannya kenapa, bila hujan sudah reda tetapi jalanan masih basah, bila tak memakai mantel, kecipratan ketika disalip motor atau mobil, bila terkena pakaian noda jalanan agak sukar dibersihkan.

Seorang teman yang kebagian masuk sift sore tadi bilang, HR Muhammad, Mayjen Sungkono sampai jalan Diponegoro macet tidak karuan. Namun saya tetap tidak menunda untuk pulang, selain ingin membuktikan separah apakah kemacetan itu, sebab lainnya adalah demi membuat catatan ini.

Sabtu, 03 Agustus 2013

Sedikit Catatan Mudik Pakai Motor



SEBAGAIMANA pada peristiwa mudik lebaran tahun-tahun yang lalu, moda transportasi yang banyak digunakan para pemudik adalah motor. Walau telah ada anjuran untuk mudik menggunakan moda lain, para pemotor (pemudik pakai motor) ini tetaplah besar. Memang ada sebagian pemudik yang mengirimkan motornya pakai kereta api atau diangkut truk, tetapi, yang bermotor menempuh perjalanan jauh berdua atau bertiga (berempat, kadang) tetaplah ada.

Tentang risiko keselamatan di jalan tentulah memang nyata adanya. Dan itu tidak melulu menghantui para pemudik pakai motor. Namun, sebagaimana kita mafhum, pengemudi motor, kalau terjadi lakalantas di jalan, adalah pihak yang paling rentan mengalami risiko terparah. Tentang ini bukanlah hal yanh tidak diketahui para pemudik pakai motor itu. Tetapi, umumnya, mereka nekat bermotor sambil mengangkut beban yang lumayan banyak itu, perhitungannya ekonomi juga. Dengan bermotor, ada banyak penghematan yang dilakukan. Dan hasil dari penghematan itu, bisa dibelanjakan untuk hal-hal lain sesampainya di kampung nanti. 

Tetapi yang tetap tak boleh dilupakan para pemotor itu, adalah kondisi kesehatan, baik pengendara maupun motornya sendiri. Dan ini, sepertinya, telah diantisapasi jauh-jauh hari. Buktinya, dua minggu sebelum mudik, tak satupun bengkel motor yang sepi. Banyaknya motor yang diservis, menunjukkan si empunya telah mempersiapkan tunggangannya itu sebaik mungkin untuk melahap perjalanan yang terbilang tidak dekat. Jakarta-Subang, Jakarta-Solo, Jakarta-Jogja, Denpasar-Bojonegoro atau jarak yang lebih jauh dari itu.
Doa kita, mudah-mudahan para pemudik itu selamat sampai tujuan. Dan bisa berlebaran di kampung halaman dengan nyaman.

Mengapa mereka jauh-jauh bermotor, tentu bisa dicari alasannya. Salah satunya, dengan bermotor, sesampainya di kampung halaman, kendaraan itu bisa dipakai kesana-kemari bersilurrahim. Tentu akan repot mudik pakai angkutan umum, begitu tiba di kampung, akan kemana-mana tak ada kendaraan.

Tetapi, tidak sedikit saya lihat, para pemudik yang selain membonceng penumpang, juga menyertakan barang yang cara mengikatnya kurang aman. Mereka hanya memakai tali rafia. Dus-dus entah berisi apa itu, tidak jarang dibuatkan tempat di ekor motor. Ekor buatan itu bisa berupa dua kayu yang ditautkan. Tetapi, dengan hanya mengikatnya memakai tali rafia, kardus-kardus itu karena efek geronjalan di jalan, tali-talinya mudah kendur. Dan itu bisa berbahaya. Jatuh di jalan, misalnya. Itu tidak akan terjadi bila pemudik mengikatnya menggunakan karet dari ban dalam bekas. Karena sifat karet yang elastis, ketika kardus itu mengempis, ia tetap bisa mengikatnya dengan erat.

SEKALIPUN tidak mudik, si Nenen juga tetap saya perhatikan kondisinya. Kemarin, selepas makan sahur, saya ganti olinya. Ohya, dalam setiap ganti oli saya memang mencatatnya pada sebuah kertas. Dari situ saya tahu, si Nenen terakhir ganti oli di AHASS pada tanggal 22 Juni 2013 dan di odometernya menunjuk angka 41365 km. Nah, kemarin itu, ketika ia saya ganti memakai Enduro-nya Pertamina (karena kalau di AHASS ia selalu pakai Federal), odometer telah menunjuk 43241 km. Artinya, dengan Federal, ia telah menempuh jarak 1800 km lebih. Sudah waktunya ganti oli.

Tentang kenapa saya pagi-pagi sekali ganti oli? Tentu saat itu, setelah semalaman mesin mati, kondisi logamnya tentu dingin. Nah, saat itulah tingkat pemuaiannya nol persen. Saya pikir itu saat aman untuk melepas baut penutup oli agar terbebeas dari risiko membuka secara ‘memerkosa’.

Okelah, bagi yang mudik, selamat mudik. Hati-hati di jalan, semoga selamat sampai kampung halaman. Berlebaran dengan keluarga dengan lega, tanpa ada bumbu cerita-cerita duka. Salam.*****